 | Assalamu 'alaikum | Sep 27, 2006 |
Assalamu 'alaikum wr. wb. Welcome to our site
Aku bermimpi melahirkan pahlawan Yang dimatanya ada sejarah menghuni hutan hutan Aku bermimpi melahirkan pahlawan Yang kata tak perlu susah payah mencatatkan Karena ia ada disetiap jiwa orang-orang Bahkan ketika pagi pun kukecup nafasmu yang masih segar Hanya surga dan aroma kerinduan terasakan Pada kesucian kecil yang menghuni bintang-bintang Padahal aku tidak pernah berani bermimpi melahirkan pahlawan Aku hanya ingin melahirkan laki-laki Yang meneguk sejarah dengan dahaga Dan merubah dirinya bermanfaat bagi kata bertajuk Indonesia Merubah generasinya menjadi serdadu langit Berderap mencapai surgaNya yang tak pernah terbayar Karena cuma KemurahanNYa yang membuat semua bisa melahirkan harapan mampir kesana
Sudah 34 minggu kata dokterku. Menantikan kelahiran seorang laki-laki mungil yang masih saja kuperdebatkan siapa namanya dengan sang Ayah. Sebenarnya kedatangannya merupakan rezeki tak terduga di keluarga ini. Ditengah-tengah kesibukanku mempersiapkan tes S2 di Lemhanas tiba-tiba test sederhana itu membentuk dua garis, satu setengah garis tepatnya. Rezeki yang menunda umminya masuk ruang operasi yang kedua kalinya untuk Fibrio Abnormalie Mamae (bener gak ya nulisnya). Kelahiran Zaydan sehari setelah wisuda sarjanaku saja sudah jadi kejadian cukup luarbiasa, dan kelahiran kedua ini sepertinya juga ditengah-tengah kesibukanku semester kedua mempelajari Perang, Konflik, Rezim, dan Ekonomi Politik Global. Berhasil juga menyembunyikan kehamilanku sampai dengan 6 bulan karena badan ini tak juga beranjak membesar dan perutku juga tak kunjung membuncit. Semua standar-standar saja. Seperti perempuan dengan tinggi 159cm dengan berat 46 kg. sengaja kusembunyikan karena takut berpengaruh atas hasil beasiswa itu (Cuma mimpi bila ada tunjangan tambahan biaya hidup seperti sahabatku yang mendapat beasiswa di negara lain ketika tahu dia hamil) Hasilnya tiap kali naik kereta ekonomi sampai Gondangdia jangan harap ada yang memberikan kursi karena penampakanku memang masih seperti mahasiswi biasa pulang kuliah dengan tas gembongnya. Kalaupun ada yang sedikit sadar malah ibu-ibu yang duduknya tepat didepanku berdiri dan menerka-nerka dengan baik hati. Tahun ini sepertinya tahun dengan banyak PR tertunda tahun lalu, Membangun Golden Generation Foundation, belajar menyetir, SIM A, SIM C yang sudah 8 tahun tertunda dan menyelesaikan S2 ku dengan semangat baja mengingat kembali bahwa ini rezeki yang sangat tidak terduga. Impianku membuat daycare dan menulis buku masih tetap jadi agenda utama. Eh, setelah mendidik dan merawat pejuang-pejuang kecilku tentu saja. Tak terduga, tak percaya bisa sekelas dengan Pak Cornelius Simbolon pak Wakasad kita, sekelas dengan Pendeta Richard Daulay Sekjen PGI yang malah dengan baik hati sering memberikan pengalaman dan kain Pashminanya untukku, Sekelas dengan Jendral Toni dan Syamsi yang rendah hati, Dengan Brigjen Putu yang wise dan ilmunya luas sekali. Dan dengan bu Indri dan Mas Erwin yang menjadi sahabat-sahabat luar biasa untukku. Kuliah dengan Pak Joseph anggota Dewan yang selalu kebingungan tugasnya yang tertinggal apa karena sering bolos karena harus rapat dewan. Bahkan kuliah bersama Prof. Mochtar Mas’oed yang ilmu tentang HI nya sering membuatku berkerut-kerut. Luar biasa sungguh tidak terduga. Seperti menghirup udara bersih di pegunungan Papua. Itulah kenapa ketika membaca bukunya Andrea Hirata aku bisa menangis sambil tertawa, tertawa sambil meringis, banyak lingkupan hidup tentang makna sebuah cita-cita tertangkap disitu. Jangan pernah menghentikan mimpimu pada arah hidupmu. Jangan pernah mendahului nasib. Allah itu punya jutaan kejutan yang seringkali kita sendiri tidak bisa untuk sekedar menerka pada torehan sederhana bernama takdir. Bahkan ketika Delapan tahun lalu aku pernah menangis karena sebuah pengumuman kelulusan tes perguruan tinggi negeri menghasilkan kebingungan luar biasa untuk ibuku mencari pinjaman kemana lagi untuk membayar iuran masuknya. Dan nanti aku menjadi sangat amat percaya. Cita-citaku tentang apapun dan seberapa besarpun untuk negeri ini dan keluargaku harus menetap dalam sebuah kepercayaan tinggi bahwa Rezeki itu selalu dari Allah. Dan selalu tersisa untuk jiwa-jiwa yang percaya. Selama kebaikan cinta tak pernah bosan menghuni rahim perempuan dengan impian yang selalu percaya. Kalau boleh suamiku sayang….. kunamakan pejuang kecil kedua kita Zachary Ihsan. Laki-laki yang baik.
Kemarin kita masih mentertawakan dengan geli aliran takdirmu mbak, seolah tidak percaya seraya bercanda tentang hidup yang masing-masing kita miliki. Dipaksa menikah dengan lamaran yang tiba-tiba datang dan tiba-tiba diterima oleh Ma’e dan Pa’e-mu. Dengan sms tetangga yang memaksa kamu pulang kampung karena musim panen tiba dan hitungan jawa calon mertuamu yang menetapkan tanggal pernikahan. Saat ini, selepas sholat maghrib derai tangisku tak juga mau berhenti. “Tega, koq tega. Semua orang tega sama saya, mba.” Itu adalah tangis pertamamu yang kutahu setelah hampir 2 tahun kita merajut silahturahmi ini, bahkan ketika kau memutuskan berhijab aku sudah melihat kehanifanmu, kehanifan yang mencerminkan kualitas karang seperti apa dirimu. Ya Allah, umurmu belum beranjak dari 18 tahun, dan kau harus menerima beban sehebat itu. Gajimu yang sedikit pun tidak kau simpan dan selalu kau kirimkan ke orang tuamu sepertinya tidak cukup menutup takdir yang begitu perih dihadapi oleh keluargamu. Aku menjadi merasa sangat miskin dan kerdil melebihi kemiskinan ekonomi yang biasa kau hadapi. Aku sangat miskin karena tak mampu meringankan beban seorang Siti Nurhasanah yang sudah menjadi adikku selama ini. Yang dengan ketekunan dan kepolosannya membantuku merawat Zaydan, putraku seorang. Terima kasih karena telah menyemangatiku untuk terus menjadi Ummu Zaydan yang jauh lebih baik dari sekarang. Terima kasih karena telah kembali mengingatkanku bahwa perjuangan panjang bangsa ini tentang makna kesejahteraan belumlah selesai. Terima kasih telah merawat Zaydan, merawatku, merawat keluargaku. Semoga Allah selalu memberi kebahagiaan untukmu dunia akhirat, semoga Allah menjadikanmu bidadari dengan baktimu pada orang tuamu. Maafkan Umma mbak… Dengan segala ketergesaan dan keterpaksaan kau bereskan barang-barangmu, sandalmu yang biasa kau pakai tertinggal, dan masih saja kutangisi sampai sekarang. Mungkin kini setiap kali aku lupa akan makna syukur kepada Rabb-ku, kisahmu adalah yang akan menjadi pengingat tentang itu.  Ba’da maghrib ini, aku mencoba melegakan nafasku dulu dengan menangisi kelemahanku, Sadar cuma cinta Allah yang selalu bisa menegarkan kita. Karena sungguh kita cuma hamba.
Kemana perginya?
Aku merindukannya
Malam ini aku sangat merindukannya.
Dia pergi ke Bandung katanya
Oo ke Bandung batinku
Naik sepeda kata ibuku
HAH! Naik sepeda..gimana bisa???
Iya benar-benar naik sepeda sama anak Mapala.
Ya udah deh.. pernyataan itu jadi hal yang benar-benar biasa

Derai cinta tentang kami terurai satu persatu malam ini...
Cintakah itu? Bila tak pernah ada keseragaman vokal?
Dasar kepala Batu! Umpatku
Jangan pernah sia-siakan kesempatanmu untuk kuliah
Hei..katanya look whos talking?? Yang bela-belain kuliah 6 tahun
untuk berjemur siang-siang
Kalau pulang malam tolong kasih kabar
Enggak ada pulsa! ketusmu
Setidaknya mulailah untuk dewasa dek,...
Dewasa itu nggak bisa dipaksa jawabmu
Jangan terlalu kasar sayang pintaku lembut
Gue emang anak jalanan, selorohmu sambil tersenyum ringan yang sangat datar
Kenapa angin sedih menjadi deru malam itu
Aku sangat ingin memelukmu
Membelikanmu sepeda”cita-cita”mu
Ke Puncak Gede bersamamu
Menjadi sahabat yang jadi sandaran keluhmu
Ya Allah...kenapa hujannya tidak juga mau berhenti?
Kenapa harus mengatakan sesuatu yang bikin merah telinga?
Atau runtukan kasar ketika bicara
Sedangkan jauh di lubuk hati kita
Cuma ada rasa sayang
Mungkin kita akan mudah menjadi sedih apabila semua orang meninggalkan kita. Tapi aku sudah cukup sedih karena seseorang pergi menjauh karena merasa kami sangat berbeda. Tapi sesungguhnya kami benar-benar mirip...benar-benar mirip.
Karena darah kita memang sama
Dek!
Foto: di Lhok Ngha sebelum ngejar2 pesawat
Melamar Menjadi Ibu
Aku pernah melamar menjadi ibu,
Seperti pekerjaan yang mustahil buatku
Aku?
Yang katanya kalau untuk bangun saja butuh ketukan di seribu pintu
Aku?
Kata wanita yang melahirkanku,
Yang pergi pulang matahari selalu sedang digantikan bulan
Aku?
Bahkan untuk mensctrika bajuku sendiri sering kewalahan
Tapi Allah meloloskan diriku,
Tanpa tes!,
Bahagianya melebihi rizki lain yang pernah mampir dalam hidupku
Tapi kata wanita yang melahirkanku
Bersiap-siaplah sayang,
Dengan masa percobaan yang luar biasa
Dan wanita itu selalu menemaniku
Memastikan segala cinta tak lepas untuk diriku
Mulailah aku belajar tentang sakit yang membahagiakan
Tentang lelah yang menyembuhkan
Tentang cinta yang tak lekang
Tentang khawatir yang tak pernah lepas dari perasaan
Aku mulai belajar tentang pengharapan
Tentang marah karena cinta tanpa batasan
Tentang bagaimana menjaga titipan
Tentang menahan keluh karena tatapan mata kecil yang mengajarkan
makna bersyukur dan kedewasaan
Dan kesadaran itu semakin besar
Bahwa perempuan yang bernama ibu sangat menyejukkan
Dan menjadi salah satunya adalah cinta yang tak ternilai
Selamat hari ibu.....
Untuk semua ibu dan mereka yang memiliki ibu....
Shalahuddin Zara~
20 Desember 2006
Jilbab, Memotivasi Ruqaya al-Ghasara Hingga Meraih Medali Emas
Rabu, 13 Des 06 12:01 WIB (eramuslim)
Berjilbab tak halangi atlit olah raga lari perempuan Ruqaya Al-Ghasara asal Bahrain untuk memenangkan pertandingan. Ruqaya Al-Ghasara mendapat medali emas (11/12) dalam olah raga lari 200 meter dengan kecepatan 23,19 detik dalam pesta olah raga Asian Games ke-15 di Doha, Qatar. Sebelum itu Ruqaya memenangkan medali perunggu dalam lomba lari 100 meter, karena awal start yang kurang tepat.
Stadion olah raga Ali Khalifah seperti bergetar dengan teriakan gembira para penonton yang menyaksikan pertandingan tersebut setelah Ruqaya memenangkan perlombaan. Apalagi menjelang Ruqaya, perempuan berbobot 65 kilogram ini mencapai garis finish. Ia telah mengerahkan seluruh potensi kekuatannya.
Tapi yang lebih istimewa bukan soal dukungan atau bobot tubuh Ruqaya. Yang membuatnya istimewa adalah karena ternyata motivator pertama yang membuat Ruqaya mampu memberikan hasil terbaik adalah, jilbabnya. Ya, Ruqaya satu-satunya pelari perempuan berjilbab yang mampu menunjukkan prestasi istimewa dalam pertandingan lari di kejuaraan tingkat Asia, mungkin juga dunia.
Ia mengatakan, “Alhamdulillah, saya menang. Saya berhak mendapat medali emas dalam lomba lari 200 meter. Alhamdulillah, saya menjadi yang paling kuat dan paling baik.”
Ia lalu menjelaskan bahwa dirinya sama sekali tidak mendapat masalah dengan jilbabnya saat olah raga lari. Bahkan ia mengatakan, “Saya justru ingin menegaskan bahwa tidak ada masalah berarti memakai jilbab seperti ini, termasuk saat olah raga sebagaimana saya lakukan.”
Ia pun berpesan kepada para Muslimah, “Saya ingin sekali mengatakan pada para Muslimah, bahwa ini adalah kenikmatan sendiri. Memakai pakaian berjilbab adalah sesuatu yang memotifasi saya. Memakai jilbab menegaskan bahwa kaum Muslimah tidak akan mendapat kendala berarti dan justru mereka terdorong untuk lebih banyak terlibat dalam event yang lebih besar.”
Ruqaya mengatakan ini di tengah luapan kegembiraannya atas prestasi yang baru saja dilakukannya. “Saya pesan kepada para Muslimah untuk berolah raga dan ikut dalam pertandingan adu kekuatan. Ini bermanfaat untuk kesehatan kalian dan negara kalian,” katanya lagi.
Ruqaya yang memakai pakaian menutup aurat berwarna putih dan merah menandakan paduan warna asal negaranya, Bahrain. Ia telah meraih sejumlah medali dari berbagai event olah raga. Ia pernah memenangkan medali perak untuk olah raga lari sprint jarak 60 meter, 200 meter, dan 400 meter dalam pertandingan olah raga Asia yang diselenggarakan di Teheran, tahun 2004. Dan kali ini, merupakan medali paling tinggi yang diraihnya selama ini. Ia berharap tahun depan bisa mengikuti olimpiade di Osaka Jepang. “Saya sudah pernah menang di event olah raga Arab, Asia Barat, tapi kemenangan ini adalah prestasi saya yang paling besar, saya ingin meraih medali lebih banyak lagi,” ujarnya.
Menurut pelatihnya, Thagen, Ruqaya adalah murid istimewa yang mempunyai kemampuan yang jarang dimiliki perempuan. Kepada pers Prancis Thagen mengatakan, “Ia telah mulai melakukan olah raga sejak umur 19 tahun, ini berarti ia hanya berlatih serius selama 4 tahun saja. Tapi kemampuan fisiknya di atas rata-rata.” (na-str/iol)

Diary Bunda
Bundaku sayang
Terima kasih atas semuanya
Semuanya….
Apa pun yang telah engkau berikan
Tiap tetes darahmu padaku
Tiap tetes air susumu padaku
Dan tiap tetes keringatmu untukku
Bundaku sayang
Terima kasih atas semua yang telah engkau berikan
Semuanya…
Mulai dari kata-kata sayangmu
Mulai dari nasehat-nasehatmu
Atau bahkan semua makianmu
Karena tidak akan pernah terbalas jasamu
Tidak akan pernah terbayar pengorbananmu
Dan tidak akan pernah hilang cintamu atasku
Bundaku sayang
Sekarang anakmu sedang belajar
Mendaki gunung-gunung kemuliaan
Menyusuri tebing-tebing kebijaksanaan
Merangkak mencari sungai-sungai kebahagiaan
Nanda berfikir sekarang Nanda telah mendapatkan hakikat kehidupan
Sebuah kerinduan akan sebuah pertemuan
Dengan sang Pencipta Kehidupan
Dan berharap fikiran nanda adalah sebuah kenyataan
Bundaku sayang
Pelan pelan Hidayah itu datang
Menghampiri dan menorehkan berjuta sisi kebaikan
Dan menuliskan
Yang salah itu salah
Yang benar akan abadi benar
Meski itu menyakitkan
Nanda hanya dapat merasakan
Betapa rasa sayang Allah itu mahal
Tidak akan diberikan pada setiap jiwa yang memohon sebuah jalan
Kecuali dia bersabar
Bundaku sayang
Andai dapat kuhitung semua kesalahan
Pasti kukalkulasikan dan kubayar dengan kebaikan
Agar timbangannya dapat berkurang
Dan cahaya-Nya bisa benderang
Sehingga syurga-Nya bisa kudapatkan
Dengan harapan bisa kupersembahkan
Untukmu seorang
Tetapi nanda terlalu kotor untuk menikmati segala kemuliaan
Terlalu hina untuk mencium wanginya syurga yang dijanjikan
Terlalu sombong untuk abadi pada berjuta kesenangan
Anehnya yang kotor hina dan sombong ini
Sering Pede mendapatkan…
Lupa pada jutaan kesalahan yang ia lakukan
Bundaku sayang…
Maafkan nanda
Karena nanda, dirimu terlalu sibuk pada pekerjaan
Tak sempat berdiri pada shalat-shalat panjang
Tak sempat bersimpuh pada sujud-sujud mengharukan
Tak sempat menambah semua amal yang tercatatkan
Bahkan tak sempat untuk menjadi seseorang
Dan lupa merasakan sebuah makna kebahagiaan
Tenggelam pada lautan pengorbanan kasih sayang
Bundaku sayang
Peradaban telah mengajarkan kita menjadi kejam
Sadar atau tidak sadar
Nanda kejam karena belum dapat jadi teladan
Tak henti jadi beban
Lupa berkontribusi pada kebaikan
Nanda lupa
Yang kau lakukan hanyalah agar kami tidak lapar
Cukup pakaian dan menjadi tiang-tiang penyangga peradaban
Peradaban terlalu kejam
Tak membiarkan kita untuk belajar
Merangkaikan kata-kata sayang
Atau mencium keningmu penuh kerinduan
Maafkan nanda….
Nanda kadang sok pintar
Mengesampingkan semua pengalaman
Dan merasa diri paling benar
Tak menanggapi semua keluhan
Karena berfikir hanya bagian dari ketidaksabaran
Atau terlalu sepele untuk diperbincangkan
Tak lain masalah dunia dan kesombongan kemanusiaan
Maafkan Nanda
Nanda lupa
Kita akan sering lapar
Kita harus sering belajar kesederhanaan
Kita harus tetap berjuang dan bertahan
Berdiri pada tonggak yang menyakitkan
Asal Allah Ridha….itu saja…Biar Allah Ridha
Bundaku sayang
Tolong ajarkan nanda lapar
Biar…..
Asal bunda bisa shalat dengan tenang
Bundaku sayang
Tolong ajarkan nanda zuhud dalam pakaian
Biar…..
Asal dapat kudengar doamu yang mengharukan
Sayup pada malam-malam panjang
Karena gemetar diri ini
Bila bertanya sudah solehkah diri ini?
Biar bisa kukirimkan do’a-do’a kebaikan
Agar syurgaNya bisa kau dapatkan
Bundaku sayang
Ajarkan juga nanda bersabar
Biar berat halangan yang datang
Biar sakitnya duri perjuangan
Biar kerasnya terjal kehidupan
Hamba harus bersabar
Karena kalau Ia Ridha’
Nanda mungkin jadi bidadari
Secermelang pelangi
Seharum kesturi
Selembut bulan di malam hari
Biar nanda ajak Bunda terbang
Mengelilingi matahari………
Dari nanda yang sangat sayang
Meski dengan kebisuan percakapan
Shalahuddin zara
Desember 2001
Menjelma menjadi bunda
Saat Kau Menjelma Jadi Bunda
Kau takkan rindukan cinta
Karena pada setiap harinya
Jatuh cinta selalu mengada
Pada malaikat kecil itu
Yang Dia titipkan padamu
Untuk jadikan ia pejuang haru biru
Bidadari Pilihan
Nada sms dari SE K700i ku berbunyi - Mba, apa kabar?, bisa minta bantuan enggak?. Ada akhwat yang siap nikah, dari kesehatan? Ada ikhwan dokter yang sedang cari istri. Kriterianya shalihat dan baik. Kalau bisa Jawa. Yang terakhir kriteria dari keluarga.- sebuah sms dari adik kelasku di Aceh. 2 sms pendek yang saling bersambungan. Belum sempat membaca yang kedua ada telefon masuk. Dari orang yang sama. Dengan tergesa menjelaskan dan meminta confirm dari aku untuk bersedia membantu prosesnya. “Ikhwannya baik dan ramah banget mba, tolong ya”.sebuah permintaan tolong yang susah dijawab dengan tidak.
Kemarin baru saja kubuka email dari teman yang sudah lama ingin kujodohkan dengan seseorang. Sebenarnya waktunya pas. Tapi kriterianya yang agak beda. Akhwatnya cerdas luar biasa. Dan aku yang paling tahu pengorbanannya yang sangat ekstra untuk keluarganya yang sederhana. Bisa tidak ya??.
Ini sudah kali kedua pengalaman yang hampir sama mampir di pengalaman saya. Sangat ingin menjelaskan ada perempuan yang sangat shalihat dan baik yang siap menikah tetapi dari keluarga sederhana. Dan dia bukan dokter saudara-saudara. Tapi apa salahnya? Toh dia shalihah dan kecerdasan serta pengabdiannya pada keluarganya sudah membuktikan kualitas calon ibu seperti apa dia.
Qanaah saja pada dunia
Bila sesak di dada hinggap
Adukan saja pada pemilikNya
Pernah suatu kali seorang ikhwan datang meminta saya membantu dijodohkan dengan seorang akhwat. Kriterianya dua: putih, tinggi. Wajar saja saya fikir. Tapi entah mengapa saya menjawabnya dengan “ Mau nikah sama Tiang listrik? “Jawaban yang terlalu emosional. Tapi ikhwannya kayaknya faham kenapa kriteria seperti itu lumayan membuat seorang wina naik pitam. (mba wina kan emang akhwat galak katanya). Lagian tiang listrik kan tinggi hitam. Nyambung enggak nyambung yang penting kumpul..
Jodoh memang selalu rahasia Allah. Semoga pangeran sholeh yang Allah persiapkan untuknya akan segera datang menyejukkan hidupnya. Agar perasaan yatim yang menggelayuti wajahnya yang terkadang berkabut itu segera hilang. Menikah memang setengah dien. Karena itu untuk menyempurnakannya butuh setengah dien yang lain. Iman.
Yang request puisi “mas gagah” di sebelah ya… selamat merenung!
 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Ahmad Wahib |
Ahmad Wahib: Ketika hidup mengajarkannya bermimpi
Kalau guntur dan hujan bisa bernasyid, mungkin hari ini mereka semua menyenandungkan bait-nya untukku, bukan atas dasar penghiburan, tapi dalam konteks memberi tausiyah keras pada seorang hamba. Kalau pelangi langit muncul hari ini, mungkin warnanya hanya biru, seragam dengan sahabat karibnya, langit, karena merah kuning hijaunya sudah memendam pada keputusasaan berpendar dan kezuhudan pada impian keindahan alam. Karena mungkin futur, sedang menyapaku sekedar. Saya jatuh cinta, sungguh saya jatuh cinta pada seseorang yang pernah hidup dan menuliskan pertanyaan-pertanyaan abadinya untuk dirinya sendiri. Pada sebuah kontroversi bathin antara kecintaan dan ketulusan yang mendalam untuk mempercayai Islam menurut Allah. Keirian tentang sebuah ide-ide yang terbebaskan dalam menulis pergulatan spiritualnya yang secara beruntung ia lukiskan dalam kosa kata maksimal dari seorang pemuda berusia 27 tahun kala itu. Runtunan waktu yang sangat ia ingin temukan adalah proses ketika ia menemukan totalitas pribadi secara bulat, secara tidak sadar atau bahkan mungkin dengan sangat sadar prosentase yang ia cari dalam hal menutupi atau tidaknya pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan pernah tertutupi dalam suatu nilai yang mumpuni. Saya tidak membaca catatan hariannya sebagai pergolakan pemikiran Islam, tetapi justru sebagai sebuah kecintaan pada totalitas keRabbaniyahan. Dan Allah sepertinya sangat sayang dengan seorang Ahmad Wahib karena tidak memberikan kesempatan ia “tercemar” dengan menjadi besar karena orang menyanjung kenyelenehan pemikirannya atau membuat ia terkenal karena kenisbian pertanyaan hakikat keagamaannya. Tapi Allah langsung menunjukkan pada pertemuan keabadiannya dan menjawab semuanya pada sebuah ujung abstrak perhentian hidup dunia. Kematian.
Menjadi Wahib secara pribadi Pada permohonan yang ia tuliskan, dengan kefahaman bahwa dirinya akan punah dengan perlahan. Seorang Wahib berusaha meneguhkan tapak hidupnya dan keinginannya agar orang lain menilainya sebagai suatu kemutlakan(absolute entity) sehingga Wahib bisa secara tulus memahami manusia sebagai manusia tanpa considerant dari mana ia berasal. Sebagaimana ia ingin dinilai sebagai seorang Ahmad Wahib, tidak lebih.(hal-46, 9 Oktober 1969). Kebingungan terbesar seorang individu dalam proses pencarian dan kepenuhan pertanyaan dalam mata hati mereka atau kita adalah ketika kita berusaha menghubungkan Allah kepada batasan-batasan manusia dalam hal waktu. Karena Allah melampaui ruang, sehingga kita seperti tidak bisa menisbahkan batasan-batasan ruang kepada-Nya. Ingin berusaha mendeskriptifkan Allah seperti manusia yang bisa berbicara, mendengar atau berjalan-jalan dan mengendarai kendaraan. Seperti juga, kita tidak bisa berkeras bahwa Allah adalah suatu wujud tiga dimensi atau bahwa Dia berpergian dari satu titik ke titik lain di suatu ruang. Dengan cara yang sama kita tidak bisa menuntut bahwa Allah memiliki masa lalu, sekarang dan masa depan, mengasumsikan bahwa eksistensinya sama dengan eksistensi kita: menurut waktu. Dasar pada pertarungan asumsi dan pemahamannya yang mendekat secara sosiologis dinamis yang menjadikan Wahib begitu bersemangat menanyakan eksistensi keresahan jiwa yang ia miliki. Kerinduan yang sesungguhnya melekat pada jiwa dan aliran darah penghidupannya. Dengan kekerdilan yang diakui dan mencoba untuk tidak disesali Wahib menukar semua kekerdilan itu dengan pertanyaan dan pemahaman tak sempurna seorang hamba. Allah memegang jiwa(orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa(orang) yang belum mati di waktu hidupnya; maka Dia menahan jiwa(orang) yang telah Dia tetapkan kematian-nya dan dia melepaskan jiwa lain sampai waktu yang telah ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir(39:42). Dalam keterjagaan yang panjang ketika ia hidup, Wahib berusaha mensosisalisasikan pemikirannya pada teman-teman diskusinya di Limited Group atau keberadaannya sebagai petinggi HMI. Dan seakan seperti “setengah” disengaja dengan rekayasa kesejarahan hidupnya, kita dapat membaca buah pemikiran dan pengalamannya karena interaksi dengan buku dan manusia dalam sebuah catatan harian yang menggugah dan begitu bebas secara dewasa. Seperti mengajak pada dinamika yang serba lain, Wahib berusaha mendobrak kebuntuan dan kemalasan berfikir muslim secara gamblang. Memaksa mereka yang terlupa untuk bergerak dan menghirup karunia berfikir dan kesempatan mempertanyakan tentang apa yang mereka yakini: Islam sebagai agama das Sollen, filsafat Islam secara universal dan Abadi; das Sein: berubah-ubah, yang ia bahasakan sebagai filsafat Islam yang belum sempurna. Dia mengajak, dengan sedikit memaksa, menyeru masyarakat muslim menjadi educated people. Mengingatkan kaum yang dicintainya dengan segala kekurangan mereka untuk terus mendobrak kebodohan mereka, menjadi pelopor atau inovator, menjadi ekspresif, responsif dan formulatif. Mereka harus kreatif bukan reaktif . Individu yang independent aktif, jujur dan berani serta tidak mencari simpati. Wahib sepertinya ingin menjadi seorang pribadi yang memiliki hak berlebihan demi sebuah kemajuan yang tak kunjung datang. Sadar sepenuhnya atas ketertindasan yang disebabkan kebodohan absolut pada masyarakat muslim secara massive. Ia sadar “penyakit” atas keterbelakangan nyaris sempurna itu harus ia ubah, meskipun masih pada tahap sederhana dengan keterbatasan yang ia miliki atau catatan sederhana dan perannya sebagai “orang lumayan penting” di HMI. Pribadi yang tidak sabar atas kelambanan proses, tata letak dan cara berfikir yang menjadi monoton karena ketidakmampuan dan daya tangkap analisa secara dangkal diaplikasikan secara sembrono oleh rekan kerja, politikus dan masyarakat Wahib secara kontinyu, menjadikan ia terus berusaha berfikir keras tentang bagaimana menjadi “problem solver” atas permasalahan dan kemandegan ide-ide brilliant tentang sebuah perubahan. Wahib mempermasalahkan perhatian yang berlebihan yang ditunjukkan sebagian orang-orang Islam terhadap masalah-masalah hukum agama.(fiqh) dan hampir melupakan masalah-masalah ketuhanan. “Faham kita tentang masalah-masalah ketuhanan yang sangat dangkal, mati tanpa isi, kehilangan intensitas, sedang diatasnya berpijaklah suatu bagunan rumus-rumus fiqh yang kaku, berbelit-belit, mekanis dan tidak absolute. Tidak heran karenanya Islam menjadi “agama patokan”, pagar-pagar batas yang merumuskan ke mana manusia-manusia di seluruh abad harus berjalan dengan mengabaikan sama sekali keunikan dan potensi kreatif yang ada pada setiap pribadi.(hal 60). Dari paragraf diatas tergambar sebuah protes keras atas kekurangan yang secara nyata ditunjukkan oleh masyarakat muslim pada zamannya dan dengan kemungkinan yang besar masih berlanjut hingga saat ini. Dengan “sedikit sombong” dan mencoba menjadi realist Wahib mengemukakan : “ Saya fikir, hukum Islam itu tidak ada. Yang ada ialah sejarah Muhammad; dan dari sanalah tiap-tiap pribadi kita mengambil pelajaran sendiri-sendiri tentang hubungan Tuhan dan sesama manusia.(hal 60). Sebuah kesimpulan reaktif dan penyimpulan atas sebuah asumsi tegas tentang kesamaan Muhammad sebagai seorang manusia yang lahir dan hidup dengan latar belakang sejarah dan budaya yang melingkupinya. Ia memahami tentang pelajaran hidup yang tak pernah selesai melingkari pribadi yang hidup, seperti setengah sadar ia berteriak-teriak protes keras atas kekurangan manusia yang dengan begitu bodoh menunjukkan dan merusak semua sistem yang dibentuk. Wahib haus dan “membutuhkan sangat” atas keidealan formasi sosial kemasyarakatan dan disaat yang sama berusaha memahami keterbatasan Wahib sebagai seorang manusia dan hamba. Sehingga dia berfikir serta berusaha menerjemahkan kondisi di sekelilingnya dan lagi-lagi dengan setengah sembrono menenggelamkan dirinya pada pencapaian cita-cita pada sebuah pola fikir, kadang dirinya sebagian lupa atas proses keseimbangan akan kerja dan fikir, fikir dan berasumsi, fikir dan merealisasi. Fikir dan melakukan, fikir dan bermimpi, fikir dan berhenti bermimpi, lantas melakukan dengan segala kemungkinan energi yang bisa dilepaskan oleh seorang Wahib. Kembali dengan indah dan cerdas ia menterjemahkan kehidupannya pada formula-formula dan strategi yang secara relatif sederhana ia kembangkan lewat tulisan dan pendapat serta keterkekangan bathinnya coba ia tutupi dengan kediaman dalam ketidakpuasan dan sesekali berbicara meskipun tak terpuaskan. Itulah Wahib, Ahmad Wahib. Menurut saya, tidak menurut anda, tidak menurut masyarakatnya, bahkan mungkin tidak dan jelas-jelas tidak menurut Ahmad Wahib sendiri.
Berfikir merubah dan “keemohan” stagnansi Ia memulai semuanya dengan penekanan penghindaran terhadap apologia. Apologia yang menyebabkan seseorang menjadi lembek dan miskin keinginan untuk merubah diri dan masyarakatnya. Penekanan atas penghindaran apologia juga dimaksudkan untuk sedikit menghidupkan syaraf-syaraf otak dalam rangka melengkapi dan mengembangkan pemikiran secara bebas terbatas. Agar latihan untuk menjadi manusia non apologis dapat secara intens terlaksana. Ia mengangkat kaum intelektual karena kelebihan mereka untuk bisa berfantasi dan berilmu karena kemampuan mereka menganalisa bersamaan dengan itu menyindir sinis kepada mereka” kaum intelektual” karena menganggap diri mereka telah memiliki “eshtablished thingking” sehingga merendahkan (sangat mungkin secara tidak sengaja) masyarakat “kebanyakan” dengan cara berfikir tanpa merealisasikan. Di sisi lain Wahib seperti ingin membangunkan fikiran-fikiran sederhana “masyarakat kebanyakan” tadi dalam rangka membangun struktur masyarakat yang “much better” dari yang terjadi pada masanya. Disamping keirian pada kesederhanaan berfikir yang sebagian menciptakan totalitas yang sederhana dalam menterjemahkan isi “keagamaan” mereka yang menimbulkan pola sederhana tanpa perlu menjadi “gila” karena pertanyaan “mengapa dan bagaimana” yang terus muncul. Keberanian mengungkapkan yang tidak sempurna yang ia miliki sangat mungkin karena kesabaran yang kurang ia lengkapi. “Tiada keberanian yang sempurna tanpa kesabaran sebab kesabaran adalah yang menentukan lama tidaknya sebuah keberanian bertahan dalam diri seorang pahlawan”.( Anis Matta, Lc). Seperti seumpama tukang batu yang berfikir untuk membangun sebuah istana lalu lupa untuk menjadi “kuli” dalam membangunnya dengan cara menggotong pasir, memilah batu bata teguh dalam sengatan matahari untuk membangun pondasi dan temboknya sampai ia duduk diatapnya dan mencoba menyelesaikannya. Meskipun seringkali sang tukang batu harus cukup puas dengan hidup yang hanya sampai ketika ia membangun pondasi dan dengan usaha untuk membesarkan rongga-rongga kelapangan dada membiarkan orang lain meneruskan usaha dan rencananya.Karena ia harus beristirahat sejenak atau bahkan selamanya. Seperti biasa, lagi-lagi bagian dari sebuah skenario Allah bukan? Ia lalu memulainya dengan mencoba mengagendakan strategi agar ia tidak menemukan sebuah stagnansi. Ia selalu menyemangati dirinya dengan cara terbatas dan kecenderungan tertatih: Aku tidak bisa mengerti keadaan di Indonesia ini. Ada orang yang sudah sepuluh tahun jadi tukang becak. Tidak meningkat-ningkat. Seorang tukang cukur bercerita bahwa ia sudah 20 tahun bekerja sebagai tukang cukur. Penghasilannya tetap sama. Bagaimana ini? Apakah mereka tidak memiliki kegairahan untuk meningkatkan hidupnya sedikit demi sedikit? Mengapa ada orang Indonesia yang sampai puluhan tahun menjadi pekerja kasar yang itu-itu juga. Pengetahuan mereka juga tidak meningkat. Apa bedanya mencukur 3 tahun dengan mencukur 20 tahun. Apa bedanya menggenjot becak setahun dengan sepuluh tahun? Ide untuk maju walaupun dengan pelan-pelan masih sangat kurang di Indonesia ini. ….Bagiku dalam bekerja itu harus harus terjamin dan diperjuangkan dua hal: 1. Penghasilan harus selalu meningkat; 2. Pengalaman dan pengetahuan harus selalu bertambah. Saya kira semangat yang tepat untuk hal ini adalah : membuat hari ini lebih baik dari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Motto seperti ini harus terus dihidupkan dalam jiwa kita. ( hal 214). Itulah Wahib, dengan keengganannya untuk tetap menjadi “biasa”, dengan ke”emoh”annya melihat orang lain bergulat dengan apatismenya. Dan semangatnya untuk tidak melarat dalam hal idealisme. Itulah Wahib, Ahmad Wahib. Menurut saya, tidak menurut anda, tidak menurut masyarakatnya, bahkan mungkin tidak dan jelas-jelas tidak menurut Ahmad Wahib sendiri.
Menjadi Politisi Kerdil Dalam perjalanan dan pergulatan keorganisasian di HMI Wahib merenungkan banyak hal. Eksistensinya, cita-citanya, harga dirinya, kontemplasinya tentang pergulatan sejarah yang terjadi di Indonesia pasca Gestapu, dilema pribadinya, sampai pergulatan bathinnya antara menjadi seorang pemikir dan politisi. Kita beku! Dan kita harus melepaskan diri dari kebekuan ini. Kita harus mengadakan eksperimen-eksperimen memperkaya dengan ide-ide segar?Tanpa ide-ide baru, Himpunan Mahasiswa Islam ini akan menjadi himpuanan juru tulis-juru tulis yang mengulang-ulang apa yang telah biasa diperintahkan tuannya. Repetition, nothing but repetition! (hal 273) Ia berbicara tentang Islam sebagai agamanya, politik Indonesia dan perkembangannya sebagai lingkungannya, dan Himpunan Mahasiswa Indonesia sebagai tempatnya berkiprah. Semua protes keras itu membutuhkan jawaban lewat dialog-dialog di mana dia sangat membutuhkannya. Dimana ada pintu lain untuk keluar dari kebekuan yang melilit lingkungannya yang tidak dinamis dalam mengolah pergolakan kesejarahan yang baru. Ketika tidak semua orang di lingkungannya tidak bisa melepaskan dahaga yang mencekatnya, dia berfikir. Hingga terkadang lupa beristirahat untuk menyalurkan kontemplasi pemikirannya lewat dunia luar yang lebih besar dan jauh lebih indah, meski semu. Mengingatkan kita ketika para ahli hukum muslim telah mengelaborasi teori tentang politik keagamaan, mereka menyampaikan dua fakta besar: tentang berbagai penaklukan besar kaum muslim di masa lalu dan ancaman permusuhan terus menerus sepanjang tapal batas imperium Islam. Itulah sebuah gambaran sekilas tentang kebuntuan yang dipertanyakan Wahib, tentang pergulatan yang sebenarnya bisa dicegah sejak garis “start”. Dalam bukunya The Outline of History, H.G. Wells mengemukakan sebuah alasan yang hampir sama: Dan sekiranya pembaca mempunyai angan-angan tentang satu peradaban yang sangat baik, entah Romawi atau Persia, Yunani atau Mesir, yang ditenggelamkan oleh air bah ini, lebih baik ia segera membuang ide itu. Islam menang karena Islam adalah tatanan sosial dan politik terbaik yang diberikan oleh zaman. Islam menang karena, dimanapun ia berada, ia membela orang-orang yang apatis secara politis, dirampok, ditindas, diancam, tidak mendapatkan pendidikan, dan tidak terorganisasi, serta menentang pemerintah-pemerintah yang mementingkan diri sendiri dan tidak sehat, yang tidak memiliki hubungan yang erat sama sekali dengan rakyatnya. Islam adalah sebuah gagasan politik yang paling luas, paling segar, dan paling bersih yang hingga kini telah menunjukkan aktivitas aktualnya di dunia, dan Islam menawarkan hal-hal yang lebih baik daripada peradaban mana pun lainnya kepada ummat manusia Wahib tahu itu, sebagian mungkin karena dogma tapi bagian lain yang lebih besar semata-mata karena pengaruh kepasrahan dan penyederhanaan seorang hamba kepada Allah sebagai Tuhan. Inisiatif, hal itulah yang menjadi “loaded” terbesar dalam jiwanya. Inisiatif melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Ketika dalam beramal, seorang muslim dituntut untuk melakukan inisiatif yang tinggi tanpa perintah siapapun. Itulah Ibda’. Ia sering membahasakan masyarakat muslim yang tidak memiliki inisiatif, baik dalam menjalankan aktivitas agamanya maupun tugas dakwahnya dalam rangka merubah, yang dampaknya terlihat sangat serius. Masyarakat muslim seperti itu akan terus menunggu-nunggu, tidak bergerak kecuali setelah mendapat arahan, anjuran atau perintah pimpinannya. Absurd dan bodoh. Yang kupercaya penuh dari pelajaran-pelajaran keislaman selama ini hanyalah Allah dan Muhammad. Selain itu bagiku tidak mutlak, kondisional. Kupikir, “agama” tidak boleh dimutlakkan (sebagai bentuk dan struktur tertentu) kalau tidak ingin hancur. Yang mutla hanyalah Tuhan, sedang makhlukNya termasuk “agama adalah mati. “agama” disini dipakai dalam pengertian peraturan-peraturan yang dibawa oleh seorang nabi Allah. Tapi dalam kehidupan konkrit, agama itu perlu diberi bentuk. Namun bentuk itu sendiri bukan agama. Demikianlah Islam. Manusia muslim perlu memberikan bentuk pada Islamnya yang tidak berbentuk itu. Dan bentuk tersebut adalah semata-mata urusan pribadi tiap-tiap manusia muslim menurut keunikan –keunikan dalam dirinya, penghayatannya terhadap kehidupan dan penafsirannya terhadap sesuatu bentuk sempurna yang telah pernah ada yaitu “ sejarah Muhammad”.(hal 128) Lagi-lagi bentuk dari keluasan kreatifitas pemikiran seorang Wahib, yang mungkin bagi sebagian orang masuk dalam kategori” mengerikan”, atau terbawa karena pengaruh pergaulan. Itulah Wahib, Ahmad Wahib. Menurut mereka, tidak menurut saya, tidak menurut anda, tidak menurut masyarakatnya, bahkan mungkin tidak dan jelas-jelas tidak menurut Ahmad Wahib sendiri.
Tentang Perempuan Beberapa sudut istimewa dalam catatan hariannya menjelaskan secara terpotong beberapa penggal kisah cinta dan romantisme seorang Wahib. Hubungan-hubungan serta perasaan istimewa kepada seorang (atau mungkin beberapa) perempuan. Ketertarikan secara fisik dalam pesona seorang balerina dalam “The First Chamber of Dance Quartet”, Janice Groman, yang mengingatkan dirinya kepada wanita yang pernah dicintainya. Dan mimpi yang diartikan dengan kelembutan yang emosional ketika ia bertemu dengan keteduhan Bunda Maria. Juga tak lupa keterpesonaan dalam dramatisasi cinta Romeo dan Juliet. Ah, cinta… ternyata masih sempat juga berkunjung ke relung pemuda seabstrak beliau. Antara ilmu dan teman putri Ilmuku terasa bertambah dengan cepat akhir-akhir ini sejak membebaskan diri dari “hubungan-hubungan” nuisance dengan beberapa teman putri. Apakah kelembutan wajah itu mengganggu aktivitas mengejar ilmu?(hal-320). Tentang dia yang kucintai Hatiku selalu diliputi keragu-raguan. Ragu-ragu antara dorongan ingin memadu hidup bersamanya dengan perasaan-perasaan kuatir akan kemampuan diri bisa memberikan kebahagiaan kepadanya. Aku ragu-ragu setelah memawas diriku sendiri. (hal-318) Entah apalagi yang akan dituliskan pada catatan hariannya apabila ia sempat menjumpai bidadari langit jelita di akhirat sana. Atau buku-buku berjenis apa lagi yang direncanakan olehnya untuk menjadi bahan bacaan wajib anaknya ketika mereka di Sekolah Dasar sehingga memungkinkan kontemplasi yang lebih menyeluruh ketika buah hatinya duduk di SMA. (mungkin setelah ia menyelesaikan seluruh jadwal dan rencananya lagi yang berantakan karena agenda VCD porno, narkoba dan Inul). Sampai paragraf ini Wahib masih membuat saya terlena karena asyik menerka-nerka seperti apa pendapatnya atau bagaimana dia akan menuliskannya dalam catatan hariannya bila dia sempat hidup pada era 90-an. Era di mana perubahan-perubahan terjadi. Era di mana jilbab menjadi trend di kalangan muslimah, di satu sisi karena pencerdasan atas kefahaman Islam yang meningkat di sisi lain karena faktor-faktor pendorong perubahan sosial ideologis kemasyarakatan yang bergerak secara bersamaan, yang tidak ia dapati di era awal 70-an. Pada tahap itu, mungkin ia akan lebih menjadi pribadi yang tetap melihat substansi yang dibungkus pada tataran syar’i. Karena Alqur’an, demi Alqur’an, sebagai satu-satunya bahasa dan puisi Tuhan. Wahib, sebagai seorang laki-laki, dapat menjadi seorang muslim tanpa harus secara substansial merubah penampilan lahiriahnya dan, karenanya, dapat menyembunyikan identitas keagamaannya bila ia menghendaki. Ia pun menekankan masalah rohani dan hati daripada komitmen fisik seorang muslimah, layaknya liberalis tahun 70-an lainnya. Beberapa pandangan “modern’ lainnya yang berkaitan berusaha menilai secara substantif tentang lahiriah seorang muslimah. Karena ketika mereka melihat para perempuan muslimah mengadopsi gaya busana muslim yang paling konservatif, telah menimbulkan kesulitan luar biasa dan menjadikan mereka sasaran empuk ancaman dan pelecehan. Ketika seorang laki-laki ber-Islam, ia mungkin dipandang eksentrik, sedikit aneh, pemikir bebas, dan beberapa kata-kata berbau kekaguman lain. Ketika seorang muslimah ber”Islam” lengkap dengan penampilannya, ia seakan mendobrak kebudayaan dan peradabannya(dalam beberapa region dan bentuk tertentu), sehingga untuk beberapa bahkan banyak pemikir, konsep Alqur’an ini dan beberapa point lain cukup menjadi point objek yang masuk kategori “askable” dan “debatable”. Mungkin satu alasannya karena “kecintaan’ terhadap keberadaan perempuan itu sendiri dan apriori dengan tujuan melindungi. Lagi-lagi saya asyik berandai-andai tentang beliau, tentang pandangan beliau, dengan point tanpa arahan yang begitu tegas dan jelas. Intinya, Ia sempat menuliskan itu, bait pendek tentang perempuan. Meskipun hingga akhir hidupnya tak sempat ia menggenapkan separuh diennya.
Dia bukan dewa, Cuma manusia yang berfikir dan bertanya. Abstrak dan tidak teratur, seperti wajarnya sebuah buku harian yang berisi curahan hati dan pertanyaan-pertanyaan kehidupan dengan penuhnya asumsi dan kebebasan penilaian. Membaca catatan harian ini, sekilas membuat saya terkesima atas persamaan-persamaan dirinya dengan saya bahkan atas perbedaan dalam proses yang begitu rumit yang terjadi antara diri saya pribadi dengan diri Ahmad Wahib. Karena itulah mungkin saya jatuh cinta, pada pertanyaan sederhananya pada kerumitan berfikirnya pada keintelektualannya dalam merangkai dan mempertanyakan “kebusukan” yang menggelora dan hidup di agama dan masyarakatnya. Ia menjadi Wahib yang mungkin berbeda dengan Maryam Jameelah, Muhamad Asa, Malcolm X, Murad Hoffman, Jeffrey Lang, Nuh ha Mim Keller, Craig Owensby, atau contoh lain para muallaf yang sebelumnya merupakan ateis atau agnostik. Mereka mencari kebenaran yang mereka temukan lewat kefahaman dan pemakluman terhap ummat Islam yang tidak sempurna. Wahib lain, ia telah menemukan kebenaran itu, ia hanya mencoba merajutnya menjadi lebih berfungsi dan mendekati sempurna, terkadang lewat pandangan antropomorpis tentang Tuhan, simbolisme dalam ekspresi kemanusiaan dan penjelasan komparatif antara manusia dan keagamaannya, semua menuju pada satu titik dalam rangka pencarian. Bila sedikit mencermati persoalan yang dikajinya berputar pada tiga hal sempit dalam rangka menyikapi tuntutan utama hidupnya yakni makanan(ghidza’ jasa-di), informasi(ghidza’aqli’) dan dzikir(ghidza’ruhi/qalbi). Sejak kecil pergulatannya adalah pesantren dengan didikan seorang ayah yang taat dan kritis. Dengan HMI-nya, Tempo-nya, pola pergaulannya di Asrama mahasiswa Katolik dan perenungan-perenungannya tentang hak setiap manusia sebagai makhluk untuk menjadi bahagia. Serta mengingatkan manusia lain untuk tidak menjadi hakim terakhir atas keputusan final penentuan Surga atau Neraka. Setiap orang berhak dan boleh saja menempatkan pada sikap pro dan kontranya. Toh sepertinya Wahib tidak akan terlalu memusingkan itu bila ia masih hidup, jika saja saya boleh berandai-andai. Menyimpulkan atau tidak menyimpulkan dirinya sebagai pembaharu atau mujaddid karena kehausan akan perubahan yang ia fikirkan. Mungkin ia juga kembali “ngambek” kalau saja tahu HMI dan Freedom Institute dengan berani memperebutkan material sebanyak 30 juta agar mereka yang mengaku intelektual muda berusaha untuk membaca pemikirannya dan berlomba untuk menjadi penyair terbaik dalam rangka memuaskan para juri dan menjadi pemenang final, dikarenakan pencapaian simbol kepuasan berfikir saja, tidak merubah dan berbuat. Itulah Ahmad Wahib dengan pemikirannya, Acak. Dengan nilai-nilai yang ia perjuangkan, Abstrak. Pada pola hidupnya yang cenderung sekuensial. Dan keterbatasan realitas perubahan masyarakat yang ia coba ubah menjadi konkrit dan nyata. Saya berusaha mencermati setiap detail tentang catatan-catatan Ahmad Wahib yang bukan tidak mungkin telah terinterupsi dengan halus oleh “sang editor”. Berusaha mencermati dengan setengah tidak adil dalam rangka memberikan penilaian seseorang yang tidak saya kenal bahkan saya lihat wajahnya secara jelas. Dengan naif dan sok tahu saya berusaha menerjemahkan kehidupannya dengan cara saya. Berusaha menyelami protesnya pada Rabb-Nya, bahasa-bahasanya dalam mengekspresikan hidupnya, kerinduan-kerinduan untuk mencintai dan dicintai serta perasaan-perasaan terdesak dan “dongkol” atas realita yang mengelilinginya. Secara sederhana dan cenderung tidak sempurna. Terlepas dan bebas dari itu semua, toh, saya tetap saja jatuh cinta padanya. Karena Wahib telah mengingatkan saya atas target menjadi “dewasa” yang telah terlewati. Karena Wahib telah menambah Pe er- Pe er besar saya tentang ummat. Karena Ia telah mengajarkan disiplin dalam menuangkan impian-impian saya. Karena saya iri padanya, karena Ia mati muda. Itulah Wahib, Ahmad Wahib. Menurut saya, tidak menurut anda, tidak menurut masyarakatnya, bahkan mungkin tidak dan jelas-jelas tidak menurut Ahmad Wahib sendiri.
Shalahuddin Zara~ (Kenang-kenangan tahun 2000, ketika jiwa A be ge saya pernah bertanya sesuatu tentang “ bagaimana menjadi hidup”)

Ketika Mas Gagah Tak Kunjung Datang
Ia akan datang
Pasti datang
Entah kapan
Membawa sepasukan balatentara beserta para hulubalang
Mungkin juga satu brigade tentara nasional
Atau satu deret jagoan
Bisa jadi samurai
Kalaupun desau kenyataan ditiupkan
Lalu menyingkirkan impian bintang
Ia akan datang
Pasti datang…
dengan kaos oblong, sandal jepit,
beserta trilyunan keberanian
yang susah payah dia kumpulkan
Ia akan datang
Pasti datang
Dengan mawar dan pedang
Dengan kereta kencana
Beserta kuda putih terbaik dari Finland
Atau Humvee modifikasi buatan Jerman
Bisa jadi dengan jet istimewa “tanpa komentar”
Kalaupun takdir putih terlanjut tercatatkan
Lalu menyingkirkan impian bintang
Ia akan datang
Dengan “kuda beroda hitam”
Hasil jerih payah
dari kemandiriannya yang tak kenal tepian
Berkah!
Karena setiap kali mogok kena hujan
Sang pangeran mendorongnya sambil beristighfar
Lalu bernasyid Suara Persaudaraan
Ia akan datang
Pasti datang
Setegar Umar
Senyum seteduh Yahya Ayash
Pemikiran secerdas Harun Yahya
Seberani Shalahuddin Al-Ayyubi
Dan artikulasi sebaik Anis Matta
Melankolis yang seromantis Rumi pada puisi-puisinya
Utama kezuhudan Abu Dzar
Kalaupun Allah telah menentukan
Lalu menyingkirkan impian bintang
Ia akan datang
Dalam bentuk pangeran tampan karena ketawadhu-an
Menjadikan dunia bukan pilihan
Yang menikah karena Allah
Demi Allah
Dengan dasar syariat Allah
Beserta kesabaran mendapatkan dirimu
Yang bergelimang kekurangan
Dan saat akad dengan tegas berkata:
Sesungguhnya aku telah menikah
Mempelaiku adalah dakwah
Allah adalah walinya
Kemudian jiwa, raga dan seluruh isi dunia
Telah menjadi maharnya
Adakah yang tersisa untuk yang lainnya?*
Ia akan datang
Pasti datang
Karena takdir Allah telah jelas tercatatkan
Meski entah kapan
Bisa jadi kau temui dia dalam deretan bintang-bintang
Yang menantimu sebagai bidadari bumi paling sabar
Yang ketika ia tak mendapatkan sang Mas Gagah Pujaan
Ia berdo’a dalam kekhusyu’an dan bahagia yang panjang
Rabbi...
Impian terbesarku adalah
Mencintai dan dicintai oleh Engkau Yang Maha Besar
Pada ketinggian kemuliaan kemanusiaan
Karena kematian begitu dekat menjelang…
Shalahuddin Zara~
2003-11-27
Untuk semua yang sedang dalam penantian
Sungguh hanya Allah sajalah yang pantas menjadi tujuan
Karena mati itu kepastian!

V for vendetta.. W for Wina eh… Wanita
Malam Minggu kemarin nonton film V for Vendeta. DVD nya boleh pinjam dari Mas Mulya (temennya si abi yang kurus tinggi dan sangat pendiam). Filmnya bagus. Meski di awal rada males pas liat yang bikin sama dengan yang bikin Matrix (enggak sukaaa banget…). Filmnya jadi tambah bagus karena sejalan sama selera saya yang suka sama revolusi yang rada bombastis apalagi dibumbui dengan misi dan visi besar tentang kemanusiaan dengan drama yang rada tragis. Tambah suka lagi karena scriptnya rada puitis. Dan dibarengi sama drama percintaan yang melankolis.. is is is .( jadi inget pas jadi mahasiswa yang suka dikomentarin anarkis sama temen sekost karena kalau diajak ketempat diskusi pas pembicaranya islib komentar saya: “Ntar pinjem pedang dulu baru berangkat.. hehehe gaya..beneeer J)
Kapan ya bisa jadi sutradara film yang keren begitu. Nyesel banget enggak maksain diri ikut Eagle Award meskipun enggak ada harapan jadi finalis ( ha ha ha) tapi setidaknya maksain untuk duduk diam berusaha mengedit keseharian orang lain dan menyulapnya jadi impian besar bagi yang nonton. ( masih disimpan dalam-dalam visinya).
Dulu lucu. Setiap ada wawancara beasiswa atau lamaran magang pas wawancara pasti ditanya visi atau impian. Jawabannya adalah mau bikin buku tentang wanita muslim di Indonesia ( akhwat) trus ngebukuin tulisan2 tentang akhwat ( baca: wanita muslim) yang keren-keren dan bikin terakhir bikin filmnya juga yang kereeeernnnn banget ( e: nya harus 5) dan terus melakukan hal-hal yang bisa meningkatkan kualitas diri dan mudah2an orang lain juga. (amieennn). Semangat semangat!!! Siapa tahu hijab Allah lagi terbuka dan do’a wanita kurus 40 kg ini kedengaran di Arsy sana .*ting ting* ( ngedipin Allah)…

Syndrom Blog-ers males ngisi
Baru bikin sebulan udah butuh konsultasi ke trainer penyemangat bagaimana untuk tetep nulis diblog ini.( padahal bikin blog ini juga biar memaksakan diri nulis dan enggak malu-maluin karena enggak up date J)
Kenapa ya akhir2 ini males ngisi? Jawabannya pertama: terlalu perfeksionis. Dah lama enggak nulis sekarang lagi terbata-bata gimana cara lancar dan inspirasi mengalir terus ketika tuk tuk di keyboard. Kedua: foto-foto yang udah mau dipasang ditulisan masih kemana-mana jadi males pasangannya belum ada. Ketiga : emang penyakit males itu obatnya satu… Rajin-Rajin dan Rajin…terakhir…. Terima kasih buat A yang udah bantuin ngerubah warna merah menyala itu jadi hijau. Jazakallah. Muchos muchos. Jadi kenapa masih males ya?. Karena terus terang saya lebih suka baca ketimbang nulis. (blog walking always) ada yang bisa bantu?
|  | My baby |
 | Words | Oct 11, '06 4:21 AM for everyone |
|  | a beautiful words |
Andai aku bukan aktivis
Suatu siang yang padat, di tengah suasana kerja, senyapnya kantor saat itu, dan di tengah diskusi seru tentang da'wah kampus ITB, HPku menjerit. Sebuah SMS masuk, mengalihkan perhatian sesaat. Terlebih karena isinya ...
"... Rasanya pengen ngomong buanyak. Sedang bosen dengan da'wah. Sebel sama qiyadah dan "koordinasi" disini. Benar-benar bukan perjalanan da'wah yang rapi. Bener kalo qt rapuh, mudah dihancurkan. Makin BERKELIT semakin SULIT, makin MERINTIH semakin PERIH, makin TAK ACUH semakin KACAU, makin BERLAGAK semakin TERJEBAK, makin MERENUNG semakin BINGUNG, makin DIAM semakin DILUPAKAN. Dimanakah muara semua tanya?"
Spontan saat itu kawan bicaraku merespon, "ALLAH". Seolah menjawab sebuah pertanyaan. "He? Maksudnya apa?", spontan juga celetukku. ga ngerti. "Ya Allah-lah muara semua tanya", jawabnya datar, dalam.
Bukan satu dua SMS bernada sama pernah 'beredar' di kalangan aktifis da'wah. Lelah, kecewa, ga' ngerti, semua campur baur membentuk formula yang pas untuk sebuah pilihan, KELUAR. 'Pamit' dari jalan da'wah.
Sebel ama qiyadah yang nyebelin orang-orang sebel Kecewa pada 'keputusan' yang mengecewakan orang-orang kecewa Ga puas dengan kinerja ikhwah yang ga memuaskan orang-orang ga puas
Ckckck.. sampai ke sebuah kesimpulan, aktivis ga bisa DIANDALKAN! Da'wah bikin capek, terkekang, makan ati! Pilihan untuk menjadi "orang-orang biasa", marginal, yang mengamati pusaran gerakan dari tepian perjuangan yang "aman" semakin mengaum-ngaum di benak.
Andai aku bukan aktifis... Ga perlu ngerasa sebel sama pemimpin yang sering sok tau terhadap kondisi lapangan, mengambil kebijakan irasional. Padahal mereka cuma bintang-bintang yang bergelantungan di langit da'wah kampus tanpa pernah menapak bumi. Tanpa merasakan perihnya tertusuk duri atau kerikil tajam di tanah yang becek.
Andai aku bukan aktifis... Ga perlu menghadiri rapat poci-poci tak terarah yang ga menghasilkan sedikitpun perbaikan, selain makin bertambahnya robot lapangan yang cuma tau 'kerja', tanpa diberi kesempatan berpikir. Bertambah utang juga tentunya:(
Andai aku bukan aktifis... Ga perlu kecewa dengan kinerja orang-orang yang mengaku dirinya da'i, tapi sering pesimis, asal-asalan, dan ga profesional.
Yah...andai aku bukan aktifiiiiis!
Aku akan bebas. Berekspresi. Berkreasi. Berda'wah dengan ceria.
Kutatap gemuruh langit, gemuruh hati, menggumpal-gumpalkan berbagai fakta kekecewaan. Sesak.
Benar-benar membayangkan,
Andai aku bukan aktifis... Pasti aku adalah pasifis, yang kerjanya dari hari ke hari cuma mringis terkikis moleknya dunia yang makin lama makin bengis dan tragis
Andai aku bukan aktifis... Tak kan mungkin aku bisa menangis haru teringat syurga Karena syurga hanya mampu terdefinisi oleh padatnya PERJUANGAN.
Andai aku bukan aktifis... Membaca saja aku susah, apalagi menulis!;p
Di atas tingginya bukit kekecewaan ini, aku ingin berteriak lantang kepada kalian semua : Woiii, Aktivis..!! Mas'ul A! Mas'ul B! Aktivis A, B, C,...Z!! Emang siapa kalian bisa ngejauhin aku dari Allah??? Emang siapa kalian bisa bikin aku memilih mundur dari jalan da'wah???
Rugi banget kalo aku meninggalkan jalan menuju syurga karena aku KECEWA PADA KALIAN..! Wong nantinya kita dikubur sendiri-sendiri, kok. dihisab sendiri-sendiri, diputuskan masuk syurga atau neraka sendiri-sendiri. karena amalan kita sendiri-sendiri!!
Rugi banget kalo aku meninggalkan jama'ah kebaikan karena aku KECEWA PADA KALIAN..! Wong amalan kalian ga akan sedikitpun berpengaruh kok pada hisabku, dan amalanku ga akan sedikitpun berpengaruh pada hisab kalian,
Mo kalian baek kek, nyebelin kek, futur kek. ANE HARUS TETEP ISTIQOMAH, ya gak?;p
Kalian ga kan rugi kalo aku mundur, Da'wah ga kan rugi kalo aku futur, Bakal ada puluhan, ratusan, mungkin ribuan orang yang siap menggantikanku.
Satu-satunya yang rugi jika aku keluar, adalah : AKU!
Gosip dari mana da'wah bikin TERKEKANG, GA KREATIF, dsb dst dll?? Keliru ambil kamus tentang definisi kreatifitas kali...? Inget kan prinsip sejatinya, SEMUA HAL ITU MUBAH, KECUALI YANG ADA NASH YANG MENGHARAMKAN
so, LAKUKAN AJA SELAMA BELOM DILARANG, ;p Jangan dibalik, DIEM AJA SELAMA BELOM 'DIPERINTAH'.
Keimanan itu hakikat yang aktif dan dinamis, yang tercermin dalam amal sholeh dan gerakan. Jadi, mana mungkin seseorang ngaku beriman kalo untuk beramal aja musti nunggu diobrak-obrak 'para jendral'?
Ane berda'wah buat Allah kok, bukan buat ente, pak mas'ul, bu mas'ulah..!
Buat Allah! Muara semua tanya.. Doain ane istiqomah neh! (nyum..nyum.., no hurt feeling, ok!:))
Tulisan ini dapat dari sebuah blog yang bikin hati meringis.. blog nya seseorang yang kecewa dengan dakwah. Lalu tulisan diatas salah satu komentarnya.
Pas buka blog itu pertama kali ( males ngasih tahu blognya J) kepala enggak berhenti merengut rengut dan urut dada dalam hati. Jengkel sebel dan utamanya pengen nonjok J jok, BUGG (*wink* sok kuat*) yang dirasa. Tapi pas baca komennya (yang banyak bgt sampai kursorku enggak selesai-selesai kliknya) komen diatas yang bikin penyejuk jiwa, pendingin hati dan ac nya hari ini.
Ya Allah.. tetapkanlah hatiku pada dienMu...pada dakwahMu ...pada perjuanganMu...pada kecintaan terhadapMu...
Buat yang bikin blog "itu" tenang, ane enggak akan nonjok antum. (bukan mahrom kali...) paling cuman ngelempar pake warren fess (hehehe). Buat someone yang masukin komen itu tuh. thanks a lot syukron jazakk spasiba..tsie tsie.. muchos gracias.
*sedang senyum-senyum sendiri sambil dengerin iktibar ramadhannya raihan*

Tahajud Hitam Putih
Dalam celah bukit kehidupan
Kutatap cakrawalanya yang memudar
Dalam jurang-jurang keputusasaan
Kubisikkan do’a berkepanjangan
Dalam kesederhanaan kehilangan
Kuhadirkan senyum gersang
Akankan kaki ini masih terus mampu berdiri
Pada pola hitam putih itu
Sedang langit telah berjalan menuju mendung
Dan hujan menjadikan pelanginya abu-abu
Akankah kedua kaki ini masih mampu berdiri
Pada pola hitam putih itu
Sedang diri ini dihujani temaramnya nafsu
Pada kejelasan keliruan itu
Tuhan telah memberikan ruang begitu besar
Pada kezuhudan dalam terawang malam
Mengapa saat bintang redup secara khusyu’
Tak jua kita beranjak mengukir keberadaan cahaya
Mengapa saat angin berbisik pasrah akan sejarah
Tak jua kita berdiri ruku’
Sedang bila fajar datang lagi
Kau akan sadar kembali
Kakimu masih rapuh
Untuk sekedar berdiri
Pada pola hitam putih itu
Shalahuddin Zara~
Juli 2002
Lhok Nga , 2005 kenangan bersama Noura

Menapak badai keteguhan Catatan seorang demo…….trans* Bila kita berusaha bertahan dan berpijak dengan benar Seringnya sakit dan kecewa yang tak tertahankan Bila kita mengganggap apa yang kita lakukan telah maksimal Sesungguhnya kita akan berhenti berjalan Inginnya kita sama dengan Abu bakar Sosok penyabar yang diliputi kesederhanaan Atau mencapai kemuliaan Umar Singa gurun yang bajunya empat belas tambalan Belajar menjadi sedermawan Ustman Atau Arif seperti Ali dengan lautan keilmuwan Karena mungkin mimpi kita terlalu tinggi untuk sama dengan seorang Muhammad Selama Allah masih memberi kita harapan Jadilah para pejuang Yang mungkin dengan sedikit rizkinya berbagi dengan para pengemis jalanan Meski seratus rupiah dengan lima puluh ribu perbandingan Atau dengan kedua tangan membantu mengangkat barang Meski setelah itu mungkin bermaksiat seharian, Naudzubillah Setidaknya ketika setiap detik keraguan menghampiri ketika Allah memberikan hidayah Hati ini menjawab Kapan lagi……… Toh besok siapa tahu kamu mati! Sebelum mimpi jadi seorang Usamah Belajar saja dari kegigihan buruh seorang Marsinah Sebelum terlalu sering terpukau dengan ketampanan wajah Mimpi saja dapat syahid semulia mujahidin sebenar-benarnya Mushab bin Umair kenyataannya, Realitanya, Dan jelas beda kemuliaannya Darah itu merah Jendral! Toh yang kuasa menjadikan putih pun tak pernah menjelaskan verbal Kenapa harus merah? Dan perjuangan tidak menjadikan dirinya berwarna putih, merah atau hitam Kalau nasyid yang terlalu sering kita nyanyikan Hanya menjadi obat stress satu hari Seharusnya tilawah itu akan lebih sering kita lantunkan Agar jadi penghibur sepanjang masa hidup kita Kalau ukhuwah itu lebih sering kita teriakkan dan kita telan sebagai materi pembahasan Seharusnya rabithah lebih sering kita lafalkan agar keegoisan yang sering singgah itu hilang Kalau Lelah, beristirahatlah Tapi setelah itu berangkatlah dengan tegap kembali ke medan perangmu Bila merasa tertinggal Berlarilah… Selama Allah masih memberikan kesempatan dengan dua kaki dan segenap jiwa Bila kesepian dan merasa sendiri Yakinlah dan berteriaklah Allah ma Ana, Allah bersama saya!!!!! Biar bersih kembali jiwa di hati Tertanam kembali ikhlas di hati. Sadarkanlah kembali Jiwa ini adalah … Seribu diantara sejuta Sepuluh diantara seratus Dan Satu diantara bermilyar-milyar komunitas jiwa yang haus cinta Bukan sembarang orang yang bisa menjadi pejuang-pejuang sejati Hanya jiwa terpilih yang teruji Melalui benteng-benteng darah dan harga diri Kerja-kerja kita Impian-impian kita Harapan-harapan kita Pasti berujung pada satu masa Dan rentang itu harus berisi baja-baja kuat penopang semangat Besi-besi tahan karat yang melangit asanya Merasuk membentuk intan berlian berkilau cinta Agar hidup dan perjuanganmu tidak sia-sia Yakinlah! Allah Cinta Para Mujahid……! Allah Cinta Para Mujahid……! Allah Cinta Para Mujahid……! Shalahuddin Zara~
Merasakan Nangroe Aceh Darussalam
Merasakan Aceh, memandang sebuah negeri di ujung Barat negara ini. 26 Oktober 2003, pukul 06.30, pesawat Hercules TNI AU yang kami tumpangi take off dari Lapangan Udara Halim Perdana Kusuma, Alhamdulillah suasana di pesawat tidak seburuk yang saya bayangkan sebelumnya. Meski duduk dihadapan tumpukan barang-barang baksos, kursi bahan gantung yang saya duduki cukup layak untuk dijadikan tempat bersandar selama perjalanan saya rasa. Selain itu, setelah mengatur backpack yang saya bawa, ternyata kaki saya pun bisa diluruskan sehingga saya bisa lumayan nyaman ketika membaca buku yang saya sengaja bawa untuk pelepas bosan. Satu lagi, ternyata ada AC yang bisa kami rasakan melalui palang-palang besi di sekitar pesawat. Sebuah realita yang menghapus gambaran sebelumnya yang saya bayangkan saya akan duduk di ruangan sempit,gelap dan panas di bawah tatapan aneh dari satu kompi pasukan TNI. Cuma satu yang rasakan. TNI AU “terasakan” sedikit lebih arogan dibandingkan AD atau AL.
Pukul 9.32 WIB kami mendarat di Bandara Polonia Medan. Beberapa penumpang menurunkan barang-barangnya dan turun karena Medan adalah tujuannya. Space pesawat sedikit lega. Semua penumpang turun melepaskan penat. Beberapa penumpang baru Medan-Banda Aceh telah siap-siap masuk. Sekitar 25 menit kami berada di Polonia. Arus bongkar pasang barang berjalan cepat. Perjalanan saya selanjutnya ternyata ditemani seorang putri bernama Lisa berusia 4 tahun. Lisa juga yang memberanikan saya merasakan take off pesawat melalui kaca jendela, meskipun guncangannya mengingati saya akan wahana di Dufan. Cukup mendebarkan.
Nuansa take off tadi memberanikan diri saya untuk menikmati penerbangan melalui jendela kecil pesawat bersama Lisa. Pegunungan Sumatera dengan hutan-hujannya melahirkan optimisme dan kenangan tentang Negeri Kaya ini. Saya sempat memperhatikan sekeliling. Beberapa TNI dari AU dan 1 kompi TNI AD yang naik dari Bandara Polonia tampak melepas lelah di pesawat. Hanya saya dan Lisa yang benar-benar terjaga di pesawat. Sisanya tertidur lelap atau memaksa tubuhnya beristirahat meskipun belum terlalu berhasil. Nuansa konflik di Aceh seakan terbaca dari wajah-wajah tentara disekitar dan kotak-kotak amunisi yang dibawa oleh mereka. Kontras dengan wajah manis Lisa dan Linda, adik Lisa, yang baru berusia 7 bulan.
Pukul 11.37 kami landing di Bandara Iskandar Muda Aceh. Hampir semua barang di pesawat diturunkan. Kami mengontak rekan Unsyiah melalui handphone. Ternyata mereka sudah dalam perjalanan menjemput kami menggunakan tronton dari Syah Kuala.
Dua ton barang sumbangan dari kegiatan UI Peduli Aceh kami angkut menuju Unsyiah. Kami sempat diminta pungli oleh tentara di bandara, sebelum keluar, dari dua ton bantuan yang kami bawa Rp.500,- perkilogram ongkosnya. Kondisi Darurat Militer kentara sekali membuat tentara seakan menjadi elemen utama dia Aceh. Efek “kepenguasaan” tadi yang sering dikeluhkan oleh rekan-rekan Mahasiswa di Aceh karena secara langsung sangat menekan rakyat. Contoh pungli tadi bisa dijadikan gambaran kecil betapa” bisnis konflik” ini cukup menguntungkan bagi beberapa pihak.
Selama di tronton yang kami rasakan adalah perjalanan yang sepi. Tidak banyak kendaraan berlalu lalang di jalanan. Setahun lalu, sangat biasa kasus penghadangan yang di lakukan GAM di jalan antar Bandara dan Banda Aceh. Saya berada di depan truk saat itu, tetapi tidak sebersit pun saya merasa bahwa akan ada kondisi yang tidak mengenakkan. Nuansa Ramadhan hari pertama seakan membawa kondisi yang cukup nyaman di Aceh. Wajah-wajah khas Melayu ujung Sumatra-lah yang meyakinkan saya, bahwa saya telah menginjakkan kaki di Serambi Mekah.
Sepanjang perjalanan menuju Unsyiah, jalan-jalan Aceh sangat sepi. Tidak ada satu pun petani, dan beberapa pusat kota tidak terlalu ramai. Tronton yang kami tumpangi sangat cepat berjalan dan beberapa kali menerobos lampu merah. Dua anggota TNI disamping saya bersikap kaku dan diam. Tapi saya tidak merasa terganggu karena saya pikir mungkin semua sikap tentara seperti itu. “Berapa lama perjalanan Unsyiah-Bandara Pak? Tanya saya kepada TNI yang berasal dari Jawa. “Paling satu jam, Dek” jawabnya tenang. “Tapi bisa dua tiga hari kalau ada penghadangan” Ia meneruskan jawaban disertai senyuman.
Banda Aceh memang sudah relatif aman. Dari informasi yang saya dapatkan, hanya beberapa daerah pelosok yang masih menjadi basis yang cukup signifikan. Aceh Timur dan Besar. Kalau pun ada beberapa anggota GAM beredar di perkotaan, tidak ada aktivitas yang mereka lakukan.
Sesampai di Unsyiah, kami menurunkan barang-barang baksos. (tepatnya rekan mahasiswa Unsyiah J) sambutan mereka sangat hangat bersahabat. Cek terakhir ada beberapa barang baksos yang hilang. Satu karung besar peralatan Laboratorium Bahasa Inggris dan earphonelingua-nya hilang hampir tiga perempatnya. Peralatan itu bantuan dari UKA ITB. Tetapi kami tidak terlalu punya kuasa dan biaya untuk mengeceknya. Hanya bisa sedikit menahan rasa mengganjal di hati di hari pertama puasa Ramadhan.
Sesudah semua perlengkapan baksos kami serahkan ke BEM UNSYIAH, kami langsung menuju asrama Haji, menaruh barang dan pembagian kamar. Sesampai di sana, ternyata rapat komisi Kongres Mahasiswa Se-Nusantara sudah dimulai. Beberapa menit saya mengikuti rapat komisi A yang membahas tentang Reformulasi gerakan mahasiswa, tetapi saya pikir dinamisasi di komisi ini sudah cukup baik dan beberapa hal penting telah disepakati. Karena itulah saya beranjak ke komisi B yang membahas tentang Peran Mahasiswa pada PEMILU 2004 dan meminta izin menjadi anggota komisi di sana.
Pembahasan komisi B cukup pelik dan beberapa kali terjadi pertentangan tentang pola peran structural mahasiswa yang akan diambil pada PEMILU 2004.Sidang komisi B terpaksa meminta perpanjangan waktu untuk memformulasikan beberapa keputusan. Ternyata, pada rapat Pleno jam 16.00 komisi A juga meminta perpanjangan waktu karena belum dapat menyelesaikan beberapa agenda di sana.
Hasil perpanjangan sidang membuat kami harus rapat hingga jam pukul 04.20 pagi. Sahur di Ramadhan hari kedua itu kami laksanakan ditengah kelelahan dan rasa persahabatan dengan rekan-rekan mahasiswa lain. Meski tidur belum sempat jadi agenda kami hari itu.
Rencananya pagi harinya kami akan melakukan konferensi pers dan proses sosialisasi di sekitar Masjid raya Baiturrahman, tetapi izin dari PDMD (Pemerintah Darurat Militer Daerah) NAD belum juga turun. Kalau pun ada aksi dengan konsekuensi tidak boleh ada satu pun wartawan yang meliput kongres, satu lagi bentuk pengekangan terhadap kebebasan berpendapat dan beraktivitas di NAD.
Ketika belum ada kepastian apakah kami diperbolehkan melakukan aksi kepemudaan dan mahasiswa di Aceh, rekan-rekan UnSyiah dan IAIN ArRaniry mengajak kami berkeliling Aceh, berkunjung ke beberapa Universitas lain di sana. Shalat Dzuhur di Masjid Agung Baiturrahman dan melihat-lihat Museum Aceh. Sore harinya setelah beristirahat, Alhamdulillah kami bisa melaksanakan konferensi pers yang dihadiri 21 wartawan utusan dari media cetak dan elektronik. Pada saat itu juga berkumandang Sumpah Mahasiswa Indonesia yang dipimpin oleh Defrizal Siregar ketua BEM UNJ yang diawali dengan dinyanyikannya lagu Indonesia Raya dan Kepada Para Mahasiswa. Beberapa hasil Kongres Mahasiswa Se-Nusantara dibacakan bergantian oleh seluruh ketua-ketua lembaga di sana.
Aksi belum juga mendapat izin, rencananya kami akan tetap melakukan aksi sosialisasi di Simpang Aceh. Tetapi ternyata Maghrib sudah terlanjur menjelang.
Malamnya dua orang rekan mahasiswa dari Aceh yaitu Ketua BEM UNSYIAH Firdaus Nuzula dan Syukurdi (Sospol IAIN Ar Raniry), yang menurut intel adalah ketua BEM IAIN Ar Raniry J diinterogasi sampai tengah malam di salah satu tempat intelejen di Banda.
Kalau mendengar penuturan rekan-rekan mahasiswa di Aceh, mereka sudah sangat terbiasa dengan penggerebekan dan tidak diizinkannya acara mereka. Bahkan sebuah konser Nasyid senandung Untuk Aceh batal dilaksanakan karena tidak ada izin dari PDMD. Sedangkan sebuah konser dangdut Live lengkap dengan goyang syur penyanyi-penyanyinya yang ditayangkan langsung di salah satu stasiun televisi swasta lancar digelar ditengah janji-janji penegakan syariat Islam di Aceh.
Tulisan ini merupakan kenangan kami (Ahmad Nur Hidayat, Winarti Halim, Maksun Djatmiko) pada 1 Ramadhan 1423 H dari BEM UI Peduli Sepenuh Hati dalam kaleidoskop newsletter kali ini. Kenangan Baksos UI Peduli Aceh dan Kongres Mahasiswa Indonesia dalam Forum Mahasiswa Indonesia Ke II di Nangroe Aceh Darussalam. Kenangan bahwa PR besar perjuangan bangsa ini masih sangat banyak dan panjang. Aceh, Ambon, Papua, Kalimantan, dan semua pelosok daerah bangsa ini yang masih terzhalimi, berdoalah bahwa pemuda-pemudi bangsa ini masih tetap tegak dan tergerak menjadi baja-baja yang menyemangati bangsa ini untuk menuju lebih baik untuk rakyat. Untuk sekedar meringankan rasas sesak dan lapar kalian. Atau mengingatkan sebuah senyuman di tengah tangis derita kalian. Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!
SUMPAH MAHASISWA INDONESIA
KAMI MAHASISWA INDONESIA BERTANAH AIR SATU TANAH AIR TANPA PENINDASAN KAMI MAHASISWA INDONESIA BERBANGSA SATU BANGSA YANG CINTA AKAN KEADILAN KAMI MAHASISWA INDONESIA
BERBAHASA SATU
BAHASA KEBENARAN
KAMI MAHASISWA INDONESIA
MEMILIKI SATU CITA INDONESIA YANG BERDAULAT

Ramadhan yang berbeda kali ini
Bukan lagi pada fajar yang menyapa
Ataupun selukis senyum dalam bisu kata-kata
Ramadhan yang selalu kutangisi
Seperti biasa…
Karena setiap memasukinya
Masih saja seperti pengemis meminta
Ribuan kontainer pahala
Sementara dunia menyempitkan ruang berdo’a
Siapa sahabat sederhana
Yang sering mengiringiku melewati duka
Seorang sahabat sederhana
Menemaniku menaiki tangga
Dalam lapangnya biru tulusnya cinta
Tapi lebih sering kurindukan
Pada sosok keajaiban
Yang menggapai ketulusan
Pada kebahagiaan jiwa disampingnya
Menggenggam do’a dengan menghempas balas cinta
Seperti melukis purnama
Teringat kenangan pada pojok kecil mushola
Mendengar tawa lucunya
Atau rintihan kesepiannya
Dalam lantunan dzikir syahdu yang dilafadzkannya
Sudah juz berapa dia?
Bolehkah kuselipkan mimpiku tentang dirimu?
Karena sering kau curi senyum putihku
Pada pengharapan melihat bisik cahaya-Mu disana
Kepolosan meluruskan lipatan hijabmu
Dan sebuah senyum malu pada sebuah penampilan baru
“Warnanya tidak cocok ya?” tanyamu
Aku hanya dapat melontar debur haru
Memastikan kau cantik dalam hijab bunga-bunga biru
Kau…
Yang sering menulis pojok tentang diriku
Neorevivalis katamu
Bahasa cinta itu semakin merdu
Seperti menggedor pintu dalam alunan kesombongan palsu
Bila lantunan dzikir syahdu itu terhenti
Simpanlah…
Dalam do’a-do’a masa depanmu
Dalam kenangan menapaki jalan bersamaku
Mengais keinginan jadi aktivis anti kemiskinan dan kedzaliman
Atau sekedar menyemangati mengerjakan
tugas yang (rasa-rasanya) tak kunjung usai
Kau…
Yang selalu menemaniku
Menyemangati berusaha kaffah dalam fakirnya ilmu
Sekedar memotret kealfaan kesyukuran pada-Nya
Mengukur keterbatasan dalam jari-jari sepi ini
Di pagi hari
Dalam bening kabut
Semilir pelangi
Masih akan tetap kurindukan tentu saja
Dalam sebuah
Ramadhan Romansa
Shalahuddin Zara~
Untuk sahabat-sahabat cantikku…
Sama-sama Yuk..kita bungkus canda tawa kita
Atau obrolan pelipur lara kita
Diluar saja… diluar mushala maksudnya
Karena ada yang sedang khusyuk
Menyapa Rabbnya
11-14-2002
Puisi ini pernah tercipta untuk seorang sahabat yang tak sengaja
mengajarkan makna itu...berbeda dengan indah
| |